Suara Hukum. Live, KARAWANG – Kampung Kosambi Jaya, Kelurahan Mekarjati, mendadak riuh pada Rabu (25/03/2026). Bukan sekadar hajatan biasa, pernikahan antara Angga Dwi Saputra dan Ns. Siti Robiyatul Bisriyah, S.Kep., bertransformasi menjadi magnet yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari barisan legislatif hingga fungsionaris organisasi kemasyarakatan (Ormas).
Digelar di kediaman mempelai wanita, Jl. Jakatingkir No. 02, prosesi yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB ini tampak dihadiri oleh wajah-wajah familiar. Terpantau di lokasi, sejumlah anggota legislatif dari Fraksi Gerindra turut hadir memberikan ucapan selamat, bersanding dengan aparatur kelurahan setempat yang ikut mengapresiasi hari bahagia kedua mempelai.
Kehadiran para tokoh ini tidak lepas dari sosok Husen, kakak kandung mempelai wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila (PP) Ranting Mekarjati. Baginya, kehadiran para tamu undangan bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan moral yang luar biasa bagi keluarga besar.
"Ini adalah kehormatan besar bagi kami. Di tengah kesibukan yang padat, para tokoh masyarakat, perwakilan KOTI Mahatidana MPC Karawang, hingga jajaran PAC Karawang Barat menyempatkan hadir. Kehadiran mereka menjadi energi positif dan kami berharap silaturahmi ini terus terjaga erat," ujar Husen dengan nada haru.
Tak hanya kental dengan nuansa kekeluargaan dan organisasi, perhelatan ini juga menjadi panggung pelestarian budaya. Gelaran Wayang Golek yang dibawakan oleh dalang kondang Wawan Dede Amung Sunarya sukses menjadi magnet tersendiri.
Alunan musik gamelan dan kepiawaian sang dalang dalam memainkan jemari di balik layar kayu membuat para tamu undangan bertahan lama di lokasi. Pementasan ini seolah menegaskan bahwa di tengah modernisasi, nilai-nilai tradisional tetap memiliki tempat istimewa dalam momen-momen sakral masyarakat Karawang.
Perpaduan antara kehadiran tokoh publik, solidaritas organisasi, dan suguhan seni tradisional ini menjadikan pernikahan Angga dan Siti sebagai catatan manis tentang bagaimana sebuah hajatan mampu mempererat simpul sosial di Karawang Barat.
Penulis : madun