Invasi Kutu Beras di Gudang Tunggakjati Resahkan Warga.


Suara Hukum. Live, KARAWANG – Fasilitas penyimpanan beras di Kelurahan Tunggakjati, Karawang, kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Bukan tanpa alasan,  hama kutu yang diduga bersumber dari gudang tersebut dilaporkan menginvasi pemukiman warga hingga masuk ke area sensitif di dalam rumah.

​Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Serangga kecil tersebut merayap di tembok, ruang dapur, hingga tempat tidur, yang mulai mengganggu kesehatan dan kenyamanan warga setempat.

​Salah seorang warga terdampak, yang akrab disapa Pak Haji, mengungkapkan kekesalannya. Ia menyebut posisi gudang yang berbatasan langsung dengan tembok rumah warga menjadi jalur utama migrasi hama tersebut.

​"Saat sedang tidur, ada sekitar sepuluh ekor kutu di badan. Ternyata sumbernya dari gudang itu, merayap lewat tembok sampai ke genteng rumah," ujar Pak Haji dengan nada geram kepada awak media. Ia juga mengkhawatirkan risiko jika serangga tersebut masuk ke dalam makanan atau telinga anggota keluarganya.

​Warga lainnya mengaku harus bekerja ekstra membersihkan rumah menggunakan penyedot debu (vacuum cleaner) setiap hari, karena sapu biasa tidak lagi efektif menangani jumlah kutu.

​Di balik masalah sanitasi ini, muncul isu yang lebih serius. Warga menduga mencurigai adanya praktik pengemasan ulang (repacking) beras di dalam gudang tersebut. Kecurigaan ini diperkuat oleh kesaksian mantan pekerja di fasilitas tersebut.

​"Informasi dari bekas pegawai saya, kontainer beras masuk pada malam hari tanpa logo. Namun, setelah di dalam, beras dikemas kembali dan saat keluar sudah menggunakan logo Bulog. Kami menduga ada praktik pengoplosan atau pengemasan ulang beras stok lama di sana," ungkap seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

​Diduga, beras yang tersimpan di gudang Tunggakjati tersebut merupakan stok lama yang kualitasnya sudah menurun, sehingga memicu perkembangbiakan hama kutu secara masif.

​Pihak pengelola gudang, dalam keterangan singkatnya, membantah adanya praktik ilegal. Mereka mengklaim bahwa aktivitas di gudang tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan pemerintah. Terkait serangan kutu, mereka berdalih hal itu adalah fenomena alami akibat faktor kelembapan atau kualitas gabah.

​"Masalah kutu itu alami karena faktor kelembapan. Di penggilingan kecil pun bisa ada telurnya dan tumbuh dengan cepat," dalih perwakilan gudang yang menyatakan telah melakukan prosedur penanganan sesuai SOP.

​Namun, upaya awak media untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut di lokasi menemui jalan buntu. Petugas gudang tidak dapat ditemui. Alih-alih bertemu manajemen, awak media justru dihadang oleh oknum aparat yang berjaga di area gerbang. Saat ditanya mengenai kewenangannya, oknum tersebut hanya mengarahkan media untuk bertanya langsung ke Kantor Bulog Karawang.

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak otoritas terkait maupun manajemen gudang mengenai solusi konkret bagi warga yang terdampak invasi kutu, serta kejelasan status beras yang disimpan di fasilitas tersebut.

Penulis : Ahyar