Suara Hukum. Live, SUMEDANG – Gemuruh suara warga menyatu dengan dentum musik tradisional saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membelah lautan massa di jantung Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5) malam. Pria yang akrab disapa KDM ini tampil mencolok dan heroik, menunggangi seekor kuda putih yang kian mempertegas nuansa kebangkitan budaya dalam pembukaan peringatan Hari Tatar Sunda.

​Kehadiran orang nomor satu di Jawa Barat tersebut bukan sekadar seremoni. Malam itu menjadi saksi dimulainya "perjalanan suci" Mahkota Binokasih, simbol supremasi dan peninggalan paling berharga dari Kerajaan Sunda, yang akan mengarungi tanah Pasundan dalam prosesi napak tilas kolosal.

​Mahkota Binokasih dijadwalkan akan diarak melintasi delapan titik wilayah strategis di Jawa Barat. Perjalanan ini bukan sekadar pameran benda antik, melainkan upaya Pemprov Jabar untuk merajut kembali simpul-simpul sejarah yang sempat tercerai-berai oleh zaman.

​"Rangkaian ini bertujuan untuk mempererat rasa persatuan sekaligus menjaga agar api warisan leluhur tetap menyala di hati masyarakat," ujar pesan tersirat dari kemegahan acara tersebut.

​Berdasarkan jadwal resmi, kirab Mahkota Binokasih akan menempuh rute sebagai berikut:

  • 2 Mei: Kabupaten Sumedang (Start)
  • 3 Mei: Kabupaten Ciamis
  • 4 Mei: Kabupaten Tasikmalaya
  • 5 Mei: Kabupaten Cianjur
  • 6 Mei: Kota Bogor
  • 8 Mei: Kota Depok
  • 9 Mei: Kabupaten Karawang
  • 10 Mei: Kota Cirebon
  • 16-17 Mei: Kota Bandung (Puncak Acara)

​Mulai tahun ini, masyarakat Jawa Barat memiliki identitas penanggalan baru. Pemerintah telah menetapkan tanggal 18 Mei sebagai peringatan resmi Hari Tatar Sunda. Penetapan ini diharapkan menjadi momentum tahunan bagi warga Jawa Barat untuk merayakan jati diri, bahasa, dan filosofi hidup Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh.

​Suasana malam di Sumedang menjadi bukti betapa haus masyarakat akan simbol-simbol identitas mereka. Dengan pengawalan ketat namun tetap inklusif, Mahkota Binokasih dilepas menuju Ciamis untuk melanjutkan estafet budaya ini.

​Perjalanan Mahkota Binokasih diprediksi akan menyedot ribuan massa di setiap kota yang disinggahinya, sebelum akhirnya mencapai garis finis di Kota Bandung pada pertengahan Mei mendatang. Bagi masyarakat Jabar, ini bukan sekadar parade, melainkan cara mereka pulang ke akar sejarah.