Suara Hukum. Live - KARAWANG – Semangat gotong royong warga kembali menjadi motor penggerak perubahan di wilayah Cikampek. Ratusan masyarakat dari Desa Cikampek Utara kini tengah bersatu untuk mewujudkan akses jalan pintas di lahan pengairan PJT II. Bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, pembangunan ini dipandang sebagai solusi krusial bagi permasalahan sosial yang bertahun-tahun menghambat aktivitas warga.
Rahmat, salah satu tokoh masyarakat setempat yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, mengungkapkan bahwa pembangunan jalan ini sempat menemui kendala teknis. Namun, desakan dari 500 warga yang membutuhkan akses lebih layak membuat niat tersebut kembali diseriusi.
"Ini adalah aspirasi murni masyarakat. Kami melihat ada urgensi sosial. Jalan ini bukan hanya untuk mengurai kemacetan parah di Perempatan Senopati dan Pintu Rel Kereta Api, tetapi juga untuk mempermudah akses pendidikan bagi siswa-siswi SMAN 3 Cikampek," ujar Rahmat.
Lebih jauh, Rahmat memaparkan bahwa langkah yang diambil masyarakat dilakukan
dengan prosedur yang tertib. Mulai dari pengumpulan tanda tangan dukungan hingga
koordinasi berjenjang ke aparatur pemerintah—dari Camat, Kapolsek, hingga Pemerintah Kabupaten Karawang—telah dilakukan untuk memastikan izin penggunaan lahan PJT II
terpenuhi secara resmi.
Visi Ekonomi Berkelanjutan
Proyek ini tidak berhenti pada fungsi jalan sebagai penghubung fisik. Rahmat bersama perwakilan warga telah merancang visi jangka panjang yang lebih luas. Melalui diskusi
dengan pihak Wakil Bupati, mereka berharap area tersebut dapat dikembangkan menjadi
pusat kegiatan ekonomi baru.
"Kedepannya, kami tidak hanya membuat jalan. Kami berencana membangun taman
wisata dan pusat kuliner. Ini adalah langkah strategis untuk memperdayakan warga melalui program UMKM.
Harapannya, jalan ini menjadi urat nadi yang menambah penghasilan masyarakat setempat," tambahnya.
Pembangunan jalan ini sendiri dilakukan secara swakelola oleh masyarakat setempat. Dengan semangat swadaya, warga berkomitmen menjaga kelestarian fungsi saluran irigasi milik PJT II dan memastikan pemeliharaan jalan dilakukan secara mandiri setelah pembangunan selesai.
Proyek ini menjadi bukti nyata bahwa ketika masyarakat memiliki
visi sosial yang kuat, solusi atas permasalahan transportasi dan ekonomi dapat lahir dari tangan warga sendiri.
Menanggapi pemberitaan yang beredar mengenai polemik pembangunan di wilayah setempat, Rahmat memberikan klarifikasi resmi. Rahmat menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan pembangunan yang dilakukan pihaknya memiliki tujuan utama untuk memberikan kemudahan akses dan mobilitas bagi warga sekitar.
"Niat kami sejak awal adalah untuk membantu masyarakat setempat agar memudahkan mereka dalam beraktivitas. ," ujar Rahmat saat dikonfirmasi,
Rahmat pun mengimbau agar pihak-pihak terkait tidak menjadikan isu ini sebagai hambatan bagi pemenuhan kebutuhan infrastruktur masyarakat. Ia menilai, perbedaan pendapat seharusnya tidak menghalangi kepentingan umum yang lebih besar.
Lebih lanjut, Rahmat menambahkan bahwa pihaknya tetap terbuka untuk berdialog dengan berbagai pihak guna memastikan proyek tersebut berjalan dengan transparan dan memberi manfaat nyata. Ia berharap masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat menghambat pembangunan yang dianggap sudah sangat dibutuhkan oleh warga sekitar.
Kami masyarakat setempat menyatakan komitmennya untuk terus mengawal proyek tersebut hingga rampung, dengan tetap mematuhi aturan dan norma sosial yang berlaku di lingkungan setempat.
Penulis : Hend