Suara Hukum.Live, KARAWANG – Rintik hujan yang membasahi aspal di Cikampek sore itu, Kamis (22/01/2026), seolah menjadi saksi bisu berakhirnya sebuah drama infrastruktur. Setelah bertahun-tahun berdiri sebagai monumen kegagalan yang mangkrak, Jembatan Ciselang kini bukan lagi sekadar beton diam. Ia resmi menjadi "nadi" yang kembali berdenyut bagi ribuan warga.
Peresmian yang dilakukan langsung oleh Bupati Karawang ini menandai era baru konektivitas di wilayah tersebut. Jembatan yang sempat terhenti pembangunannya ini kini berdiri kokoh, memangkas jarak yang selama ini menjadi beban harian masyarakat.
Selama proyek ini terbengkalai, warga Cikampek harus bertaruh dengan waktu dan keselamatan. Jalur alternatif yang sempit, gelap, dan licin saat hujan menjadi satu-satunya pilihan. Namun hari ini, narasi tersebut berubah. Anak-anak sekolah tidak perlu lagi memutar jauh hanya untuk mengejar bel masu Distribusi hasil bumi dan mobilitas pekerja kini memiliki jalur bebas hambatan yang memadai Akses menuju pusat kesehatan kini lebih cepat, sebuah faktor krusial dalam situasi darurat.
Bupati Karawang, dalam pidatonya yang emosional di bawah payung di tengah rintik hujan, menegaskan bahwa Jembatan Ciselang adalah simbol "penebusan dosa" birokrasi masa lalu.
"Setiap hari proyek ini mangkrak, ada kerugian ekonomi yang ditanggung rakyat. Hari ini kita tidak hanya meresmikan jembatan, tapi kita memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah daerah," ujar Bupati dengan nada tegas.
Pemerintah Kabupaten Karawang kini berkomitmen untuk menerapkan sistem pengawasan digital berbasis real-time untuk memastikan tidak ada lagi proyek strategis yang "tertidur" di masa depan.
Keberhasilan penyelesaian Jembatan Ciselang diharapkan menjadi efek domino bagi pembangunan infrastruktur lainnya di Karawang. Warga tidak hanya menginginkan jembatan yang selesai, tapi juga kualitas yang terjaga dan tata kelola yang transparan.
"Dulu jembatan ini seperti harapan yang digantung. Sekarang, kami bisa melihat masa depan yang lebih lancar," ungkap seorang tokoh warga setempat sambil menatap arus kendaraan pertama yang melintasi jembatan tersebut.
Penulis : Madun