Suara Hukum.Live - KARAWANG – Ironi olahraga di "Kota Pangkal Perjuangan" kembali mencuat. Di saat bendera prestasi seharusnya berkibar, salah satu putra terbaik asal Dusun Jatirasa Tengah, Kelurahan Karangpawitan, Jay Dongkrak, justru harus bertarung melawan ketidakpastian finansial sebelum benar-benar menginjakkan kaki di ring Muay Thai Kuala Lumpur, Malaysia.
Jay Dongkrak bukan sekadar atlet; ia adalah simbol kegigihan pemuda Karawang Barat yang berhasil menembus kancah internasional. Namun, tiket menuju podium juara kini berada di ujung tanduk. Bukan karena kurangnya porsi latihan, melainkan karena minimnya sokongan dana dari pemangku kebijakan di tingkat daerah.
Hingga detik ini, persiapan teknik Jay telah mencapai 100 persen. Namun, aspek krusial seperti akomodasi dan biaya keberangkatan masih menjadi "lubang menganga" yang belum tertutup. Kondisi ini memicu tanya besar: Di mana peran Pemerintah Daerah dan instansi terkait saat atletnya berjuang membawa nama Karawang ke peta dunia?
Pelatih Jayden, yang setia mendampingi proses berdarah-darah sang atlet, mengungkapkan kekecewaan yang mendalam. Menurutnya, masalah ini bukan sekadar urusan uang, melainkan marwah pembinaan atlet di Karawang.
"Anak ini sudah memeras keringat setiap hari. Ia siap bertarung membawa nama Indonesia dan Karawang. Sangat ironis jika langkahnya terhenti hanya karena kita gagal memberikan dukungan finansial yang layak. Ini soal kepedulian," tegas Jayden dengan nada getir.
Keberangkatan Jay ke Malaysia seharusnya menjadi momentum bagi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Karawang maupun Dinas Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) untuk menunjukkan taji dalam mendukung talenta lokal. Publik kini menagih janji dan komitmen pemerintah dalam memfasilitasi atlet-atlet potensial agar tidak "mati suri" sebelum berlaga.
Jayden menambahkan bahwa ajang di Malaysia adalah pintu gerbang menuju level dunia. Jika kesempatan ini terlewat, bukan hanya Jay yang rugi, tapi citra pembinaan olahraga Karawang yang akan tercoreng di mata publik.
Waktu terus berjalan. Setiap detik yang terbuang tanpa kepastian dana adalah langkah mundur bagi prestasi olahraga daerah. Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Daerah dan para pemangku kepentingan di Karawang.
Masyarakat Jatirasa Tengah dan publik Karawang kini menunggu: Apakah Pemkab akan hadir sebagai pahlawan yang mengantar Jay ke podium juara, atau hanya akan menjadi penonton saat mimpi anak bangsa ini layu sebelum berkembang?
Jangan biarkan Jay Dongkrak bertarung sendirian. Di balik sarung tinjunya, ada harapan ribuan pemuda Karawang yang ingin melihat bahwa prestasi memang dihargai di tanah kelahirannya sendiri.
Penulis : Madun