Suara Hukum. Live -BANDUNG – Wajah pendidikan Jawa Barat tengah bersiap menghadapi pergeseran paradigma besar. Mulai tahun ajaran 2026/2027, deru mesin motor di parkiran sekolah akan menjadi masa lalu. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), secara resmi menetapkan kebijakan "Zero Motor" bagi pelajar, sebuah langkah berani yang menempatkan kedisiplinan di atas kenyamanan semu.
Kebijakan ini bukan sekadar urusan lalu lintas, melainkan sebuah "kontrak peradaban" antara pemerintah, sekolah, dan orang tua.
Berbeda dengan aturan administratif biasa, KDM memperkenalkan mekanisme preventif yang ketat. Setiap siswa baru wajib menandatangani surat pernyataan bermaterai yang juga mengikat orang tua mereka. Poin-poinnya tajam dan tanpa kompromi:
* Larangan berkendara bagi yang belum cukup umur.
* Haram hukumnya menggunakan knalpot brong yang bising.
* Zero tolerance terhadap rokok dan minuman keras.
"Pendidikan bukan sekadar mengejar angka di atas kertas, tapi tentang bagaimana mencetak perilaku. Jika lalu lintasnya tertib, maka daerah itu beradab," tegas KDM dengan nada retoris yang kuat.
Narasi "kasihan" nampaknya tidak berlaku dalam kamus kebijakan ini. KDM menyiapkan sanksi sistemik: siswa yang nekat melanggar akan kehilangan hak subsidinya dan diminta angkat kaki dari sekolah. Ini adalah pesan keras bahwa fasilitas negara hanya diperuntukkan bagi mereka yang siap patuh pada norma hukum.
Langkah progresif ini mendapat "lampu hijau" langsung dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Dalam kunjungannya di Mapolda Jabar, Rabu (4/3), Kapolri menyebut inisiatif KDM sebagai bantuan besar bagi kepolisian dalam menekan angka kecelakaan menonjol di kalangan remaja.
“Gubernur sudah memberi contoh nyata. Ini adalah langkah konkret membantu kepolisian menciptakan ketertiban sejak usia dini,” puji Kapolri.
Menuju Jabar yang Beradab
Dengan kebijakan ini, Jawa Barat di bawah KDM sedang melakukan eksperimen sosial skala besar. Menghapus motor dari sekolah berarti memaksa sistem transportasi publik berbenah dan mengembalikan siswa ke jalur yang seharusnya: fokus pada pendidikan karakter, bukan gaya hidup di jalan raya.
Bagi KDM, keteraturan di jalan adalah cermin martabat sebuah bangsa. Kini, bola panas ada di tangan orang tua dan guru siapkah mereka mendukung revolusi mental dari bangku sekolah ini.
Penulis : Madun