Suara Hukum.Live- Tuntutan persaingan di dunia kerja industri Karawang yang kian ketat mendorong sektor pendidikan dan bisnis untuk bersinergi. Sebanyak 50 siswa-siswi berprestasi dari SMPN 2 Telukjambe Barat hari ini (27 Oktober 2025) tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi melakoni pengalaman belajar transformatif, membedah langsung dapur produksi PT Ajinomoto Indonesia di kawasan KIIC.
Kunjungan yang diinisiasi oleh Tenant Association KIIC ini diselenggarakan dengan tujuan tunggal: menanamkan kesiapan karir dan wawasan industri sejak dini.
Para siswa disambut dengan wawasan mendalam yang jauh melampaui proses pembuatan bumbu masak. Mereka diajak berdiskusi tentang filosofi "Eat Well, Live Well" perusahaan, serta komitmennya terhadap Green Chemistry—praktik industri ramah lingkungan dan pengelolaan limbah yang justru menghasilkan produk samping bermanfaat.
Reza Pradikta, DM General Administration PT Ajinomoto Indonesia, menegaskan bahwa momen ini adalah investasi sosial jangka panjang. "Kami tidak hanya berbagi tentang teknologi pangan dan manajemen rantai pasok, tetapi juga praktik bisnis yang bertanggung jawab. Wawasan ini kami harap dapat memotivasi siswa untuk berinovasi dan menyadari bahwa teknologi dan keberlanjutan adalah kunci industri modern," ujarnya.
Penjelajahan proses produksi Masako, Saori, dan Mayumi dilakukan melalui Visitor Corridor modern, memastikan standar mutu dan higienitas tinggi. Kunjungan ke Mini Museum Ajinomoto semakin memperkuat pemahaman siswa tentang pentingnya standar mutu di setiap tahapan proses.
Di tengah atmosfer edukasi yang inspiratif, Div. Head External Relation KIIC, Bambang Sugeng, memberikan pesan yang menukik langsung ke tantangan masa depan pelajar Karawang.
"Dunia kerja di Karawang memang banyak kesempatan. Tetapi, jika kesempatan ini tidak dimanfaatkan, kita bisa kalah saingan," tegas Bambang. Ia menekankan bahwa kunjungan ini adalah modal berharga yang harus menginspirasi siswa untuk memilih jurusan kuliah yang relevan dengan kebutuhan industri.
Pernyataan ini disambut baik oleh perwakilan guru, Hasan Ruhyat, S.Pd., M.Pd. Ia melihat fasilitas pabrik sebagai laboratorium kontekstual yang hidup. "Siswa kami belajar penerapan ilmu pengetahuan, matematika, dan etika kerja. Ini sejalan dengan kurikulum kami yang menekankan bahwa masa depan adalah persaingan hidup yang tidak akan mudah," ungkap Hasan.
Kunjungan ini merupakan cerminan komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) KIIC yang sistematis. Kawasan industri tersebut, bersama Tenant Association-nya, telah menggariskan enam pilar program strategis yang membuktikan bahwa kontribusi tidak hanya diukur dari angka produksi, tetapi dari shared value (nilai bersama) yang diciptakan:
Kepedulian Sumber Daya & Ekonomi Masyarakat: Fokus pada penguatan SDM lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi mikro.
Kepedulian Kesehatan dan Sosial: Investasi pada peningkatan akses layanan kesehatan dan responsif terhadap isu kemasyarakatan.
Pertanian dan Pelestarian Lingkungan: Pelatihan pertanian modern, kewirausahaan, serta praktik industri hijau.
Implementasi pilar-pilar ini menunjukkan pergeseran paradigma CSR dari sekadar "pemberian sedekah" menjadi kemitraan strategis yang menggunakan keahlian teknis industri untuk menciptakan nilai bersama.
Kunjungan edukasi yang diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif ini menegaskan peran strategis kawasan industri KIIC sebagai mitra pendidikan dan pusat penyemaian bibit-bibit unggul Karawang, menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi masif dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lokal.
Penulis : Dewa


