Bencana dan Barikade Ekonomi: Mengapa Industri Karawang "Kebal" Banjir Saat Ribuan Rumah Tenggelam

Suara Hukum. Live, KARAWANG, 11 Desember 2025. berhadapan dengan murka alam. Setelah luapan masif dari Sungai Citarum dan Cibeet, ribuan rumah penduduk terendam, memaksa pengungsian, dan melumpuhkan arteri-arteri utama. Namun, di tengah kepungan air bah yang meluas ini, satu sektor vital tegak berdiri, nyaris tak tersentuh: Kawasan Industri Karawang.

"Sampai saat ini kawasan industri di Karawang tidak ada yang terdampak banjir," tegas Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Kelola Keberlanjutan (SDG) Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Irwansyah, pada Rabu (10/12/2025).
Pernyataan ini bukan hanya sekadar kabar baik bagi perekonomian daerah, tetapi juga memicu pertanyaan mendasar tentang tata ruang dan prioritas pembangunan di lumbung industri Jawa Barat ini.

Sementara air bah mengepung pemukiman padat di tepi sungai, kawasan industri menampilkan sistem pertahanan yang terencana matang. Kunci ketahanan mereka terletak pada dua elemen teknis krusial:
 
Irwansyah menjelaskan bahwa sejak fase perencanaan, lokasi industri telah diukur dan dibangun di atas 'peil banjir'—ketinggian lantai minimal yang diantisipasi. "Kawasan industri sejak tahap perencanaan sudah mengantisipasi dengan mengecek peil banjir dan menyiapkan lahan di atas peil banjir," tuturnya.

Pengelola kawasan juga berinvestasi besar pada infrastruktur penahan air. Mereka merancang sistem drainase yang cermat dan menyiapkan retention pond (kolam retensi) berkapasitas memadai. Kolam ini berfungsi menyerap limpasan air dan mencegahnya menggenangi area operasional.

 Pekerja adalah Jembatan Kerentanan
Meskipun benteng fisik industri ini kokoh, operasional mereka tidak sepenuhnya aman. Ancaman nyata datang dari faktor manusia. Mayoritas tenaga kerja yang menggerakkan roda pabrik-pabrik di Karawang ini justru tinggal di pemukiman padat dan rawan banjir.

"Namun mungkin ada karyawan pabrik di kawasan industri yang rumahnya terdampak banjir sehingga tidak bisa bekerja sementara," jelas Irwansyah.
Potensi absensi massal ini menjadi risiko tak terhindarkan. Para perusahaan kini harus menyusun strategi mitigasi, menghadapi dilema antara menjaga jadwal produksi dan empati terhadap karyawannya yang sedang menjadi korban bencana. Kerentanan ini menunjukkan bahwa keselamatan ekonomi kawasan industri sangat bergantung pada keselamatan hidup para pekerjanya.

Keseimbangan yang Terabaikan
Ketidakseimbangan ini menyoroti diskrepansi dalam perencanaan tata ruang di Karawang. Fokus utama pembangunan dan investasi mitigasi bencana tampaknya terpusat pada perlindungan aset-aset ekonomi utama, sementara pemukiman penduduk, terutama yang berada di daerah aliran sungai, kerap ditinggalkan dalam kondisi rentan.

Pola banjir Karawang kali ini—yang "lebih banyak melanda pemukiman di sekitar aliran sungai besar"—adalah cerminan nyata dari kegagalan jangka panjang dalam mengelola zonasi wilayah. Kawasan industri terlindungi, tetapi infrastruktur dan tata kelola air untuk masyarakat sipil masih memerlukan intervensi mendesak.

Banjir 2025 ini mungkin tidak merendam pabrik-pabrik, tetapi ia menenggelamkan ribuan mimpi dan aset rumah tangga. Karawang kini berada di persimpangan: merayakan ketahanan ekonominya atau akhirnya mengatasi kerentanan sosial yang tak pernah usai.
Penulis : Madun