Suara Hukum. Live, KARAWANG – Aula Husni Hamid menjadi saksi bisu sebuah peristiwa budaya yang melampaui sekat geografis. Pada Minggu (19/4), riuh rendah dialek Batak yang khas berpadu harmonis dengan atmosfer pusat pemerintahan Karawang. Hari itu, Persadaan Pomparan Toga Sinaga Dohot Boru (PPTSB) Wilayah Jawa Barat tidak sekadar melantik pengurus baru, melainkan sedang menegaskan sebuah manifesto kebangsaan: menjaga akar di tengah derasnya arus modernitas.
Pelantikan pengurus periode 2026–2030 ini bukan sekadar seremoni formalitas. Kehadiran tokoh-tokoh sentral seperti Edison Sinaga, Koperus Sinaga, dan Jansen Sinaga memberikan legitimasi moral bagi organisasi. Solidaritas internal marga Sinaga dipamerkan sebagai fondasi yang kokoh sebelum organisasi ini berakselerasi lebih jauh di ranah publik.
Satu hal yang mencuri perhatian adalah visualisasi para pengurus. Balutan Ulos yang melingkar elegan di atas setelan formal menjadi pesan visual yang kuat tentang "Harmonisasi Identitas".
"Ini adalah simbol bahwa kami tidak pernah menanggalkan jati diri sebagai orang Batak, namun kami sepenuhnya siap bersikap profesional dan adaptif dalam tuntutan zaman," ungkap salah satu pengurus di sela-sela prosesi.
Keputusan memilih Aula Husni Hamid sebagai lokasi pelantikan merupakan langkah taktis yang penuh makna. PPTSB Jawa Barat seolah sedang mengirimkan sinyal diplomasi budaya yang inklusif. Terdapat tiga pilar strategis yang dibidik melalui momentum ini:
- Sinergi Kelembagaan: Mempererat komunikasi dan kolaborasi aktif dengan Pemerintah Kabupaten Karawang.
- Integrasi Lintas Budaya: Membuktikan bahwa nilai-nilai luhur Batak mampu beradaptasi dan berdampingan secara apik dengan kearifan lokal Tanah Pasundan.
- Filantropi Sosial: Transformasi dari sekadar komunitas marga menjadi organisasi yang memiliki dampak sosial nyata bagi masyarakat luas di Jawa Barat.
Acara yang dibuka dengan kebaktian syukur ini diakhiri dengan parade seni budaya yang memukau. Namun, esensi yang dibawa pulang oleh ratusan anggota yang hadir melampaui euforia perayaan.
Ada mandat besar untuk menjadikan PPTSB sebagai organisasi yang transparan dan inklusif, terutama bagi generasi muda Batak di perantauan yang kerap menghadapi tantangan krisis identitas.
Dengan resminya pelantikan ini, PPTSB Jawa Barat memulai langkah panjang menuju 2030. Mereka membawa satu keyakinan teguh: bahwa memelihara tradisi bukanlah cara untuk mundur ke belakang, melainkan strategi terbaik untuk memenangkan masa depan.
Jurnalis: Yerrydewa
Editor