Suara Hukum. Live. KARAWANG – Matahari Jum’at (15/5/2026) di Telukjambe Barat mungkin terasa sama bagi banyak orang. Namun, di halaman markas KSM GMBI Telukjambe Barat, udara terasa sedikit lebih hangat oleh sesuatu yang sulit dibeli: empati.
Di bawah tenda sederhana, sebuah gerakan bertajuk “Berani dan Peduli” sedang berlangsung. Bukan unjuk rasa, bukan pula orasi politik. Ini adalah aksi donor darah massal hasil kolaborasi dengan PMI Karawang yang berhasil mengumpulkan sekitar 100 anggota LSM GMBI. Di sini, darah yang mengalir dari lengan-lengan perkasa para anggota organisasi tersebut menjadi pesan bisu namun sangat lantang tentang apa arti solidaritas yang sebenarnya.
Pemandangan menarik terlihat saat Asep Mulyana, Ketua DPD LSM GMBI Distrik Karawang, turut berbaring di antara barisan pendonor. Di saat banyak pemimpin organisasi hanya hadir untuk memberi sambutan, Asep memilih memberikan darahnya.
“Solidaritas bukan soal siapa yang paling keras berteriak atas nama rakyat di podium,” ujar Asep di sela proses pengambilan darah. “Ini adalah keberanian untuk hadir secara fisik saat orang lain sedang bertaruh nyawa. Membantu sesama tidak butuh status sosial, cukup sekerat ketulusan.”
Pernyataan Asep adalah antitesis dari tren kepemimpinan hari ini yang seringkali terjebak dalam sekat-sekat protokoler. Baginya, jarum donor adalah penyetara; bahwa di hadapan kemanusiaan, semua orang adalah sama.
Selama ini, organisasi masyarakat (ormas) sering diidentikkan dengan keberanian di jalanan. Namun, Sekretaris KSM GMBI Karawang, H. Ibenk, mencoba menggeser paradigma tersebut. Menurutnya, keberanian hari ini telah bergeser maknanya.
“Musuh kita sekarang bukan lagi lawan fisik, melainkan rasa acuh. Berani itu bukan cuma soal kuat di jalan, tapi berani memberikan bagian dari tubuh kita sendiri untuk orang yang bahkan tidak kita kenal,” kata Ibenk.
Senada dengan itu, Tri Nurhandi, Ketua KSM GMBI Telukjambe Barat, menyoroti fenomena ‘kepedulian digital’. Ia menekankan bahwa satu kantong darah yang nyata jauh lebih menyelamatkan nyawa daripada seribu tanda 'like' di media sosial.
“Peduli itu bukan status, bukan pencitraan. Peduli adalah aksi nyata. Ketika darah kita bisa menyambung hidup seseorang, alasan apa lagi untuk kita hanya diam?” pungkas Tri dengan nada kritis.
Kegiatan ini berakhir tidak hanya dengan tumpukan kantong darah yang siap didistribusikan ke rumah sakit, tetapi juga sebagai pengingat bagi warga Karawang. Di tengah dunia yang semakin dingin dan individualis, aksi "pahlawan sunyi" ini adalah bukti bahwa denyut nadi gotong royong masih berdetak kuat.
Bagi pasien kecelakaan yang sedang kritis, ibu yang berjuang dalam persalinan, atau anak-anak penderita thalasemia, darah yang terkumpul hari ini adalah napas tambahan.
Mungkin benar kata pepatah: Seseorang tetap bisa melihat matahari esok hari, hanya karena ada orang lain yang bersedia berbagi kehidupan melalui setetes darahnya. Di Telukjambe, kemanusiaan tidak sedang dipidatokan, ia sedang dipraktikkan dengan penuh kesenyapan namun berimbas besar.
Penulis : Yerrydewa