Suara Hukum. Live --KARAWANG — Langit Dusun Bakan Lio, Desa Karyasari, Kecamatan Rengasdengklok, mendadak saksi bisu gelora haru yang membuncah. Di tengah semarak penyambutan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus 2026 ini, sebuah bendera Merah Putih berukuran raksasa 2x3 meter berkibar megah, menyita perhatian siapa saja yang melintas.
Di balik gagahnya sang saka yang berkibar, tersimpan cerita tentang cinta yang tak pernah usai, air mata yang mengering, dan sebuah penghormatan agung dari keluarga yang gugur di medan bakti.
Adalah keluarga besar mendiang Pratu Kurniawan Budi Nugraha, bersama sang ibunda tercinta, yang menginisiasi pengibaran bendera berukuran besar tersebut. Pemasangan bendera ini bukan sekadar rutinitas menyambut 17 Agustus, melainkan wujud nyata menyalakan kembali api nasionalisme yang dibayar mahal oleh darah sang buah hati.
"Pengibaran bendera besar ini kami dedikasikan untuk mengenang jasa dan perjuangan anak kami tercinta yang gugur di medan perang Papua pada tahun 2023 lalu," ungkap perwakilan keluarga dengan suara bergetar.
Pratu Kurniawan Budi Nugraha, putra kebanggaan keluarga, gugur saat menjalankan tugas negara demi membela kedaulatan Ibu Pertiwi di tanah Papua. Pengorbanan jiwa raganya meninggalkan duka mendalam, sekaligus kebanggaan abadi bagi keluarga dan warga Desa Karyasari.
Rengasdengklok, tanah yang sarat dengan sejarah detik-detik proklamasi, kembali menjadi saksi betapa mahalnya sebuah kemerdekaan. Ketika sebagian masyarakat merayakan 17 Agustus dengan kemeriahan pesta rakyat, keluarga almarhum Kurniawan memilih cara yang syahdu namun sarat makna: membentangkan Merah Putih seluas 2x3 meter di teras rumah dan dusun tempat ia dibesarkan.
Aksi ini sekaligus menjadi refleksi mendalam bagi kita semua. Bahwa di balik angka "81" usia kemerdekaan Indonesia pada tahun 2026 ini, ada keringat, air mata, dan nyawa para prajurit yang dipertaruhkan agar sang Merah Putih tetap tegak berkibar di bumi pertiwi.
Semangat juang Pratu Kurniawan Budi Nugraha kini telah menyatu dengan angin Rengasdengklok, meniupkan pesan abadi bahwa cinta kepada tanah air melampaui batas-batas kehilangan yang paling dalam.
Penulis : Ahyar