Suara Hukum. Live, KARAWANG — Beberapa bulan terakhir, langit Karawang Timur seolah enggan bersahabat. Di bawah terik matahari yang membara, musim kemarau ekstrem menghantam tanpa kompromi. Sumur-sumur warga di Desa Warung Bambu berubah kering kerontang, memicu krisis air bersih yang mencekik, sekaligus mengancam masa depan para petani lokal yang menggantungkan hidupnya dari bulir-bulir padi.
Namun, di balik peliknya krisis, ada kekuatan besar yang bangkit: kebersamaan.
Tak tinggal diam meratapi keadaan, Camat Karawang Timur, Banawan, bersama Kepala Desa Warung Bambu, Mustakim, menggerakkan langkah nyata yang memadukan ikhtiar lahiriah dan batiniah. Selasa, 29 September 2026, Lapangan Bola Warung Bambu berubah menjadi lautan manusia yang khusyuk menengadahkan tangan, menunaikan Shalat Istisqa—memohon ampunan dan rahmat berupa turunnya hujan.
Di bawah sengatan terik siang itu, shalat berjamaah dipimpin oleh Ustad Alfiansyah sebagai imam sekaligus penceramah. Suasana haru dan khidmat menyelimuti lapangan hijau. Tua, muda, pejabat, hingga rakyat biasa, berdiri berdampingan tanpa sekat, melebur dalam satu gelombang doa yang tulus.
"Kita adakan shalat Istisqa ini karena kemarau panjang sudah di luar perkiraan. Seharusnya September ini sudah masuk musim hujan, nyatanya belum ada. Sebagai pemimpin, saya menghimbau masyarakat untuk bareng-bareng berdoa kepada Allah SWT," ungkap Camat Banawan penuh harap di sela-sela kegiatan.
Dampak kemarau ini memang bukan main-main. Kepala Desa Warung Bambu, Mustakim, menuturkan bahwa warganya kini harus merogoh kocek lebih dalam demi membeli air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Belum lagi bayangan gagal panen yang menghantui para petani akibat matinya tanaman palawija dan padi.
Bagi seorang pemimpin desa, Shalat Istisqa bukan sekadar agenda keagamaan seremonial. Di tengah krisis, perhelatan ini menjadi jangkar bagi berbagai dimensi krusial kehidupan bermasyarakat:
Penenang Jiwa & Perekat Sosial: Kehadiran pemimpin di tengah kesulitan warga memberikan ketenangan psikologis. Ini juga menjadi benteng untuk meredakan potensi ketegangan sosial akibat rebutan sumber air yang semakin menipis.
Penyelamat Ekonomi & Pangan: Harapan terbesar tertuju pada keselamatan tanaman pertanian serta terisinya kembali embung dan sumur desa yang kering, agar roda ekonomi kembali berputar normal.
Refleksi & Gerakan Jangka Panjang: Mustakim melihat kekeringan ini sebagai momen taubat kolektif—sebuah pengingat agar warga kelak lebih bijak menghemat air, giat melakukan penghijauan, dan membangun sumur resapan demi masa depan lingkungan yang lebih tangguh.
Ikhtiar terbaik telah ditunaikan. Doa-doa tulus telah meluncur deras dari Lapangan Warung Bambu, menembus cakrawala. Kini, warga Karawang Timur menanti dengan dada lapang, penuh asa agar tetesan air hujan segera turun menyiram bumi—bukan sekadar air, melainkan berkah yang menyegarkan dan menghidupkan kembali denyut nadi kehidupan desa.
Penulis : Yerrydewa