Di Tengah Kebisingan Janji, GMBI Memilih Aksi Nyata di Kutawaluya



Suara Hukum.Live, Karawang, 16 Agustus 2025 — Di tengah hiruk-pikuk janji dan polemik yang sering kali mengisi ruang publik, ada sebuah suara yang memilih untuk tak bersuara nyaring. Sebuah aksi senyap yang justru lebih lantang dari ribuan pidato. Pada Jumat sore di Kutawaluya, Karawang, LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) Distrik Karawang menggelar acara yang mungkin tampak sederhana: "GMBI Peduli", sebuah agenda rutin yang berfokus pada santunan anak yatim.

Acara ini bukan sekadar seremonial. Di dalamnya, terpancar sebuah pesan yang menohok. Berbeda dari kebanyakan, jajaran pengurus GMBI yang hadir, mulai dari Ketua KSM Kutawaluya, Naming, hingga Ketua DPD LSM GMBI Distrik Karawang, Asep Mulyana, tidak sibuk mencari panggung atau sorotan. Mereka berdiri berjejer, bukan untuk berpose, melainkan untuk menyambut satu per satu anak-anak yang hadir. Aksi sederhana ini, berupa jabat tangan dan tatapan tulus, terasa jauh lebih berharga daripada janji politik yang sering kali berakhir hanya di atas kertas.


Dalam sambutannya yang lugas, Asep Mulyana menyentil sebuah realitas pahit. "Kita tidak bisa menghapus semua air mata. Tapi kita bisa memilih apakah kita hanya jadi penonton, atau jadi alasan seseorang tersenyum hari ini," ujarnya, menantang kita semua untuk berkaca. Ini bukan sekadar ajakan, melainkan tamparan halus bagi mereka yang lebih sering memilih posisi aman sebagai penonton di tengah permasalahan sosial.

Pernyataan senada juga datang dari Naming, Ketua KSM Kutawaluya. "GMBI lahir dari rakyat, maka GMBI wajib kembali ke rakyat," tegasnya. Ucapan ini bukan hanya sebuah moto, tapi sindiran telak untuk organisasi yang sibuk berteori di balik meja, namun enggan turun langsung menyentuh masyarakat. Ia menegaskan, kepedulian haruslah dibuktikan, bukan hanya diucapkan.

Di Kutawaluya, para anak yatim memang mendapatkan santunan materi, tapi yang terjadi sesungguhnya jauh lebih dalam. Acara ini menjadi cermin bagi kita semua. Di saat bangsa ini terlalu sering disibukkan oleh perdebatan tentang kekuasaan, GMBI memilih untuk fokus pada nilai-nilai kemanusiaan.

Aksi yang dilakukan GMBI di Kutawaluya seolah bertanya pada nurani kita: apakah kita masih punya ruang untuk peduli? Di tengah kegaduhan yang mendominasi, aksi-aksi senyap seperti ini mungkin tak akan masuk dalam berita utama, tapi justru inilah yang paling dibutuhkan: aksi nyata yang mengembalikan esensi kemanusiaan, yang sering kali terlupakan. Ini bukan hanya tentang santunan, melainkan tentang pengembalian nurani yang sehat.