Hukum Suara. Live - KARAWANG — Tanah Sunda menyimpan akar sejarah Islam yang mengakar begitu dalam. Dari denyut napas perjuangan Syekh Hasanuddin Qurrotul Ain (Syekh Quro) di jantung Masjid Agung Karawang, sebuah gerakan kultural dan spiritual yang masif kini kembali bergelora menembus batas teritorial nusantara.
Lembaga Pembelajaran Al-Qur'an (LPQQ) mengambil langkah strategis yang tajam dan sarat tanggung jawab moral, mengusung manifesto yang menggugah nurani: "Yang Beriman Harus Bisa Membaca Al-Qur'an".
Di balik ekspansi gerakan nasional yang kini telah menancapkan panji-panjinya di 33 provinsi—dari tanah Sulawesi hingga pedalaman Kalimantan—terselip catatan historis yang membanggakan warga Karawang. Jantung pergerakan nasional LPQQ ternyata berdenyut dari bumi Rawamerta, dikomandoi langsung oleh sang pendiri sekaligus Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LPQQ Indonesia, Kyai Mahbub Soleh Zakarsih.
Momentum peneguhan komitmen tersebut tumpah ruah dalam perhelatan akbar pelantikan pengurus DPD LPQQ Kabupaten Karawang di Aula Ratu Hamid, Komplek Pemda Karawang. Peristiwa ini sekaligus menandai berlanjutnya nakhoda kepemimpinan Tatan Abdul Rozak yang dipercaya memegang kendali sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) LPQQ Kabupaten Karawang untuk masa bakti yang keempat kalinya.
Acara yang menyedot perhatian sekitar 250 hingga 300 kader pengurus tingkat kecamatan dan desa itu tidak berhenti pada selebrasi seremonial semata. Lebih dari itu, LPQQ mengawinkannya secara taktis dengan agenda Training of Trainer (ToT) Sertifikasi Metode Islah.
"Metode Islah dirancang secara komprehensif, menyerupai metode baca Al-Qur'an mapan seperti Iqro atau Mataku. Terbagi dari Juz 1 hingga 7 yang fleksibel untuk semua lini usia—mulai dari anak-anak, remaja, mahasiswa, masyarakat dewasa, hingga para lansia," papar Tatan Abdul Rozak di sela-sela jalannya kegiatan.
Melalui ToT bersertifikat ini, para ustaz dan juru dakwah di tingkat akar rumput digembleng secara profesional. Targetnya mutlak: menyamakan standar baku pengajaran agar metode pembacaan ayat suci di tiap pelosok desa di Karawang memiliki presisi tinggi, mudah dicerna, dan ramah bagi masyarakat yang selama ini masih terbata-bata mengeja huruf hijaiyah.
Langkah masif ini lahir dari pembacaan data yang menohok nurani. Tatan membeberkan realitas statistik yang mesti dituntaskan bersama: diperkirakan sekitar 65% umat Islam di Indonesia masih berstatus belum mampu membaca Al-Qur'an.
Sebuah ironi di negeri berpenduduk muslim terbesar dunia, padahal kefasihan membaca Al-Qur'an—khususnya surah Al-Fatihah—merupakan rukun sah yang tidak bisa ditawar dalam pelaksanaan shalat lima waktu.
Berdiri di atas fondasi swadaya kemasyarakatan, LPQQ hadir sebagai mitra strategis negara, bersinergi dengan Kementerian Agama untuk mengikis habis buta aksara Al-Qur'an demi mencerdaskan peradaban bangsa.
Di balik gemerlap syiar ini, tersimpan potret sosial yang mengiris hati. Selama bertahun-tahun, para guru ngaji di pelosok desa mendedikasikan hidupnya secara murni lillahi ta'ala tanpa sokongan honor tetap dari pemerintah.
"Dulu, para guru ngaji kita ikhlas mengajar semata-mata menghidupkan syiar Islam, sekadar cukup untuk mengganti biaya minyak tanah atau listrik rumah mereka. Padahal, mereka juga kepala rumah tangga yang memikul nafkah istri dan anak," ungkap Tatan dengan nada reflektif.
Namun, angin segar mulai bertiup. Dalam lawatannya pada ToT LPQQ tingkat Provinsi Jawa Barat bersama perwakilan Kementerian Agama RI, Tatan membawa kabar gembira. Pemerintah pusat kini tengah menggodok usulan alokasi anggaran fantastis mencapai Rp12 triliun yang diajukan ke DPR RI untuk tahun anggaran mendatang. Kebijakan ini disiapkan sebagai bentuk afirmasi dan kehadiran nyata negara terhadap kesejahteraan guru ngaji di seluruh tanah air.
Gerakan literasi Al-Qur'an ala LPQQ mendobrak stigma bahwa belajar mengaji hanya milik usia anak-anak. Berpegang pada prinsip menuntut ilmu sepanjang hayat, spektrum santri binaan LPQQ di Karawang merambah berbagai lapisan:
- Generasi anak-anak dan remaja
- Kalangan mahasiswa dan pemuda
- Masyarakat usia dewasa
- Kaum lansia yang setia menghidupkan majelis-majelis taklim
Ketika ditanya mengenai target waktu penyelesaian pengentasan buta aksara di 339 desa se-Kabupaten Karawang, Tatan memilih jalur optimisme yang membumi. "Kami tidak mematok target kaku harus selesai dalam satu atau dua tahun. Kami jalani dan ikhtiarkan dengan maksimal, karena mengurus Al-Qur'an itu urusan ilahiah; Allah sendiri yang akan memudahkan dan memberkahi jalannya."
Dengan dilantiknya para punggawa baru dan masifnya penerapan Metode Islah bersertifikasi ini, Karawang tidak sekadar merawat memori kejayaan sejarah masa lampau lewat sosok Syekh Quro. Lebih dari itu, Karawang tengah menenun masa depan baru: melahirkan masyarakat yang religius, bermartabat, dan benar-benar fasih melantunkan ayat-ayat suci Sang Pencipta.
Penulis : muslim